
Donggala – Pemerintah Kabupaten Donggala terus memperkuat pembangunan karakter generasi muda dan kepedulian sosial melalui dua inovasi daerah, yakni Gerakan Siswa Cinta Masjid (GSCM) dan Gerakan Infak Seribu Sehari Peduli Sosial untuk Sesama (GISS-LISOUMA).
Kedua program tersebut disosialisasikan langsung oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Donggala dalam wawancara di ruang kerjanya, Rabu (22/7/2026), sebagai upaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap tujuan, manfaat, dan implementasi kedua inovasi tersebut.
Sekretaris Daerah menjelaskan, GSCM lahir sebagai implementasi Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan pentingnya pembentukan peserta didik yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, dan bertanggung jawab. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga harus mampu membentuk karakter peserta didik.
"Ketika tujuan pendidikan itu tidak merubah pribadi siswa, maka dianggap gagal," ujar Sekda. Ia menambahkan, karena itu GSCM dirancang untuk membangun kebiasaan positif yang pada akhirnya menjadi karakter peserta didik.
Ke depan, konsep tersebut juga akan dikembangkan secara inklusif melalui Gerakan Siswa Cinta Gereja (GSCG) bagi peserta didik beragama Kristen dan Gerakan Siswa Cinta Pura (GSCP) bagi peserta didik beragama Hindu. Langkah itu diharapkan memperluas pembinaan karakter dengan tetap menghormati keyakinan masing-masing peserta didik.
Menurut Sekda, GSCM menjadi salah satu solusi untuk menjawab berbagai persoalan sosial yang mengancam generasi muda, seperti penyalahgunaan narkoba dan kenakalan remaja. Program tersebut diintegrasikan ke dalam mata pelajaran Pendidikan Agama, sehingga pelaksanaan salat berjamaah dan membaca Al-Qur'an menjadi bagian dari penilaian pembelajaran.
Pelaksanaan GSCM didukung aplikasi digital yang menghubungkan sekolah, keluarga, dan masjid. Guru melakukan penilaian di sekolah, orang tua memantau saat anak berada di rumah, sedangkan imam masjid memverifikasi kehadiran melalui pemindaian barcode. Sistem tersebut juga menyediakan dashboard untuk memantau tingkat partisipasi peserta didik dalam salat berjamaah dan mengaji.
Selain memperkuat pembinaan karakter, Pemkab Donggala juga menghadirkan GISS-LISOUMA sebagai inovasi penghimpunan infak masyarakat secara digital melalui gerakan infak seribu rupiah setiap hari. Dana yang terkumpul akan dimanfaatkan untuk pembangunan rumah tidak layak huni, bantuan bagi fakir miskin dan korban bencana, dukungan pendidikan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Menurut Sekda, potensi gerakan tersebut sangat besar apabila mendapat dukungan masyarakat. "Apabila kita dapat kelola sedemikian rupa maka tidak ada masyarakat miskin dan semua bisa dibantu. Inilah roh dari program ini," katanya. GISS-LISOUMA dikelola oleh Forum Koordinasi Organisasi Islam Indonesia (FORKOIID) Kabupaten Donggala melalui aplikasi berbasis website agar penyaluran infak berlangsung lebih mudah, transparan, dan akuntabel.
Sekda mengajak seluruh masyarakat berperan aktif menyukseskan GSCM. Menurutnya, pembentukan karakter generasi muda bukan hanya menjadi tanggung jawab guru, orang tua, maupun imam masjid, tetapi merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Ia juga mengajak masyarakat berpartisipasi dalam GISS-LISOUMA sebagai bentuk kepedulian sosial dan semangat gotong royong. Sekda menegaskan, keberhasilan kedua inovasi tersebut sangat bergantung pada dukungan masyarakat agar mampu memberikan dampak nyata bagi pembangunan sumber daya manusia yang berkarakter sekaligus meningkatkan kesejahteraan sosial di Kabupaten Donggala.
Media Center Kominfo Donggala/Az-M/Rs
sumber: infopublik.id